On 23 March 2014, the World Health Organization (WHO) issued its first communique´  (WHO, 2014a) on a new outbreak of Ebola virus disease (EVD), which began in December 2013 in the Republic of Guinea, initially in the Prefecture (province) of Gue´cke´dou in Guinea’s eastern rainforest region, Guine´e Forestie`re (Forested Guinea), then spreading to the Prefecture of Macenta, 80 km to the east. Located on the Atlantic coast of West Africa, Guinea is the first country in this geographical region to report an EVD outbreak with more than one case  (Fig. 1a). Cases have now also been reported at several other locations in Guinea, as well as in neighbouring Liberia  (Fig. 1b). The appearance of cases in the Guinean capital, Conakry, represents the first large urban setting for EVD transmis-sion. Another case passed through the Liberian capital, Monrovia, but with no reports of any further transmission within the city. Suspected cases in the neighbouring republics of Mali and Sierra Leone have so far tested negative at the time of writing  (Fig. 1b, 25 April 2014).

EVD is a severe haemorrhagic fever caused by negative-sense ssRNA viruses classified by the International Com-mittee on Taxonomy of Viruses as belonging to the genus Ebolavirus in the family Filoviridae (order Mononega-virales). Filovirus particles are 80 nm in diameter and form twisted filaments (hence the name) of up to 1.1 mm in length. One other genus in this family, Marburgvirus, contains viruses causing a similar disease to EVD. The third genus, Cuevavirus, is confined to bat hosts. The case fatality rate in EVD is so high, approaching 90 % in some outbreaks  (Table 1), that members of the family Filoviridae have been classified as Category A potential bioterrorism agents by the Centers for Disease Control and Prevention  (CDC, 2014). All bodily fluids are infectious, requiring the use of full-body protective clothing by medical and surveillance staff. Epidemiological control is also made especially difficult due to the highly variable incubation period of 1–25 days  (Dowell et al., 1999), and the long Ebola virus-positive period of some recovered patients  (Rodriguez et al., 1999;  Rowe et al., 1999). These figures are necessarily approximate because of the low number of confirmed survivors in which testing has been carried out. Patients initially present with fever, headache, joint/muscle and abdominal pain accom-panied by diarrhoea and vomiting  (Paessler & Walker,  2013). In its early stages, EVD is easily confused with other tropical fevers, such as malaria or dengue, until the appearance of the haemorrhagic terminal phase, presenting with the characteristic internal and subcutaneous bleeding, vomiting of blood and reddening of the eyes. If sufficient blood is lost, this leads to renal failure, breathing difficulties, low body temperature, shock and death  (Paessler & Walker,  2013). ‘Cytokine storm’ with immune suppression of CD4 and CD8 lymphocytes is a candidate mechanism for production of the terminal haemorrhagic fever  (Wauquier  et al., 2010). Current treatment of EVD is purely symptomatic. However, the antiviral drug favipiravir has produced some promising results in laboratory-infected

sumber :  http://www.apinfectologia.com/wp-content/uploads/2014/08/EBOLA-1

Journal Internasional Ebola Virus Disease

Posted by : Unknown
Jumat, 28 Agustus 2015
0 Comments
Begitu kompleksnya berbagai permasalahan yang terjadi di Indonesia sehingga terdapat masalah-masalah yang tidak tersorot oleh berbagai media. Salah satunya ialah masalah pelayanan kesehatan yang ada di Indonesia ini. Kebanyakan dari mereka lebih banyak menyorot permasalahan seperti politik, hukum, pendidikan, ataupun ekonomi. Padahal, permasalahan-permasalahan tersebut seperti tidak ada habisnya. Mereka melupakan bagaimana kualitas pelayanan kesehatan yang ada di Indonesia selama ini.
            Disini kami akan sedikit membahas masalah pelayanan kesehatan di Indonesia. Masalah pelayanan kesehatan disini yang akan kami bahas adalah pelayanan kesehatan dari tingkat primer, atau yang mendasar. Contohnya ialah pelayanan kesehatan di puskesmas.
Puskesmas adalah suatu persatuan kesehatan fungsional merupakan, pusat pengembangan kesehatan masyarakat disamping juga membina peran serta masyarakat, memberikan pelayanan secara menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat di wilayah kerjanya dalam bentuk kegiatan pokok. Oleh karena itu puskesmas diharapkan dapat menjadi tempat untuk memperbaiki kesehatan masyarakat Indonesia.
                     Tetapi dalam kenyataannya puskesmas tidak dapat memenuhi fungsinya dengan baik. Apalagi puskesmas yang berada di desa-desa kecil. Banyak keluhan masyarakat desa yang mengatakan tentang masalah pelayanan, tenaga medis serta manajemen puskesmas yang masih buruk dan tidak bisa memberikan pelayanan secara maksimal kepada masyarakat Indonesia.
Masalah yang muncul di tingkat pelayanan kesehatan primer
            Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan bagi masyarakat karena cukup efektif membantu masyarakat dalam memberikan pertolongan pertama dengan standar pelayanan kesehatan. Pelayanan kesehatan yang dikenal murah seharusnya menjadikan Puskesmas sebagai tempat pelayanan kesehatan utama bagi masyarakat, namun pada kenyataannya banyak masyarakat yang lebih memilih pelayanan kesehatan pada dokter praktek swasta atau petugas kesehatan praktek lainnya. Kondisi ini didasari oleh persepsi awal yang negatif dari masyarakat terhadap pelayanan Puskesmas, misalnya anggapan bahwa mutu pelayanan yang terkesan seadanya, artinya Puskesmas tidak cukup memadai dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, baik dilihat dari sarana dan prasarananya maupun dari tenaga medis atau anggaran yang digunakan untuk menunjang kegiatannya sehari-hari.
            Sehingga banyak sekali pelayanan yang diberikan kepada masyarakat itu tidak sesuai dengan Standar Operating Procedure (SOP) yang telah ditetapkan. sikap tidak disiplin petugas medis pada unit pelayanan puskesmas juga menjadi sebuah masalah. Masyarakat selalu diperlakukan kurang baik oleh para petugas medis yang dinilai cenderung arogan, berdalih terbatasnya persediaan obat-obatan pada puskesmas telah menyebabkan banyak diantara pasien terpaksa membeli obat pada apotik. Tidak hanya hal-hal yang telah diungkapkan di atas, lebih dari itu, masih ada permasalahan yang muncul di lingkup puskesmas, misalnya: Jam kerja Puskesmas yang sangat singkathanya sampai jam 12.00 WIB dan tambahan waktu lembur sampai jam 14.00 WIB, kemampuan keuangan daerah yang terbatas, puskesmas yang kurang memiliki otoritas untuk memanfaatkan peluang yang ada, puskesmas belum terbiasa mengelola kegiatannya secara mandiri, serta kurangnya kesejahteraan karyawan yang berpengaruh terhadap motivasi dalam melaksanakan tugas di puskesmas.
Penyebab terjadinya maslah di puskesmas
·         Pelaksanaan manajemen yaitu merupakan hal penting yang menentukan dalammencapai tujuan yang efisien dan efektif dari tujuan Puskesmas. Dapat dikatakan juga bahwa kurangnya pengetahuan para Kepala Puskesmas dan rendahnya disiplin/etos kerja staff, menjadikan unsur manajemen ini tidak berjalan. Tentu hal ini menghambat kinerja.
·         Sarana dan prasarana di puskesmas di Indonesia terkesan tidak diperhatian oleh pemerintah dengan alasan wilayah geografis yang sulit untuk dijangkau, sehingga sarana dan prasarana yang ada di dalam Puskesmas sangat terbatas, baik berupa alat medis maupun obat-obatan. Hal ini terjadi akibat dari sumber keuangan yang dimiliki Puskesmas terbatas sehingga mutu pelayanan puskesmas pun menjadi rendah karena tidak sesuai dengan standart kesehatan.
·          Tenaga medis: Jumlah tenaga medis yang sangat sedikit mengakibatkan ketidakmampuannya melaksanakan program dari Dinas Kesehatan.
Solusi untuk menyelesaikan masalah yang ada di puskesmas
      Puskesmas sebagai unit pelayanan kesehatan yang terinstitusionalisasi mempunyai kewenangan yang besar dalam menciptakan inovasi model pelayanan kesehatan di daerah. Untuk itu dibutuhkan komitmen dan kemauan untuk meningkatkan atau meratakan kualitas dan kuantitas pelayanan kesehatan dengan melakukan revitalisasi sistem kesehatan dasar dengan memperluas jaringan yang efektif dan efisiensi puskesmas,peningkatan jumlah dan kualitas tenaga kesehatan atau revitalisasi kader PKK,pembentukan standar pelayanan kesehatan untuk kinerja sistem kesehatan yang komperehensif,serta memperbaiki sistem informasi pada semua tingkatan pemerintah.
            Dari banyak kasus yang terjadi di banyak daerah,jelas bahwa puskesmas memiliki pencitraan yang rendah pada saat sekarang,terutama jika dilihat dari sarana,puskesmas tidak memilki fasilitas yang lengkap walaupun sudah mendapat dana dari dinas kesehatan.
            Selain itu dari semua masalah yang muncul persoalan pertama yang harus diatasi adalah masalah manajemen puskesmas dengan cara penempatan SDM kesehatan yang memiliki kemampuan manajemen yang mumpuni, sehingga tidak terkendala dalam penjabaran fungsi-fungsi Puskesmas yang terintegrasi dengan visi dan misi pembangunan kesehatan.
            Semua program puskesmas dengan manajemen yang sudah di perbaiki terlebih dahulu tersebut, yang selanjutnya harus dilaksanakan dengan mengutamakan prinsip-prinsip non-diskriminatif, partisipatif dan berkelanjutan. Artinya, kita harus membuka akses seluas-luasnya kepada masyarakat tanpa kecuali untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. dengan mengutamakan upaya pereventif, promotif, tanpa harus mengabaikan upaya rehabilitatif dan kuratif.
            Kepada masyarakat, tetap kita berharap mereka memelihara dan menjaga perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sebagai upaya prioritas yang harus dibudayakan, sehingga kita berharap fungsi-fungsi Puskesmas lebih fokus kepada upaya preventif dan rehabilitatif.
            Namun sebagai upaya kita untuk mendekatkan dan membuka akses pelayanan kesehatan dasar seluas-luasnya yang bersifat kuratif dan rehabilitatif, setiap hari kerja baik di Puskesmas Perawatan dan Non Perawatan, kita memiliki petugas yang siap melayani. Karena itu masyarakat tidak perlu ragu untuk datang, baik itu melakuakan pemerikasaan kesehatan, pengobatan maupun konsultasi masalah kesehatan yang mereka hadapi.

sumber: http://pelatihanguru.net/prospek-kerja-sarjana-lulusan-fakultas-kesehatan-masyarakat-skm

Masalah Pelayanan Kesehatan di Indonesia beserta Solusinya

Posted by : Unknown
Kamis, 27 Agustus 2015
0 Comments


Bener-bener belum bisa tenang kalau persiapan buat ospek hari Jumat belum selesai semua. Pagi-pagi bangun tidur langsung  ngelanjutin nulis essay. Asal ada waktu, tidak mau sia-sia buat nyicil persiapan ospek.
Ngumpul sama temen-temen lagi di PKM, untuk diskusi dan menyelesaikan persiapan buat ospek. Momen yang seharusnya dimanfaatin buat mengerjakan tugas kelompok dan mendiskusikan yang belum jelas, malah sebagian ada yang sibuk dengan urusan pribadinya. Maklum saja, temen-temen juga pasti ngrasain apa yang aku rasain. Aku nggak tahu harus ngerjain tugas individu atau tugas kelompok. Aku coba cari cari desain co card yang dari google. Terus aku bikin sendiri buat liat hasilnya, tapi kurang bagus. Temen-temen
Sekelompokku dan angkatan juga ikut mikir untuk menyempurnakan desain itu. Akhirnya salah satu teman kami ada yang berhasil membuat co card dengan bagus. Lalu seluruh angkatan pun membuat co card yang sama. Wah, senang sekali aku bisa nylesein satu tugas yang tadinya aku anggap bakalan sulit.
Ada pengumuman, sampul buku warna ungu yang kemarin sepakat kita beli bersama-sama ternyata salah. Karena ada tulisan “public health 2015” . Aku Cuma ketawa dalam hati. Kami sepakat untuk menambal tulisan yang ada dengan karton warna ungu. Ternyata waktu kita mencari karton warna ungu tersebut di setiap toko tidak ada karena ungu yang untuk sampul warnanya tidak seperti ungu biasa. Dua tugas sudah selesai. Itulah pentingnya teman, itulah makna kekompakan, Meudahkan hal yang sulit.
Kelompok kami –kelompok gizmas- ingin menyelesaikan tugas kelompok hari ini juga. Antara lain membuat essay kelompok, membuat senam, papan kelompok, mengumpulkan kardus, dll. Supaya besok masing-masing anggota bisa fokus dan menyelesaikan tugas-tugas pribadinya. Selain itu tugas pribadi juga kita kerjakan bersama supaya lebih saling mengenal dan kompak, seperti belanja perlengkapan di moro.
Tugas demi tugas terselesaikan hari ini. Setidaknya membuatku sedikit lega. Tinggal beberapa tugas pribadi yang belum aku garap. Semoga sampai hari jumat malem nanti semua tugasku selesai.
Karena kebersamaan membuat yang sulit menjadi mudah. Kekompakan anak-anak UNSOED.

Diary Persiapan PKKMB

Posted by : Unknown 0 Comments


MENGAPA MEMILIH KESMAS UNSOED
 DAN APA KONTRIBUSI YANG SAYA BERIKAN

Alhamdulillah tahun  2014 saya lulus SMA dengan predikat rangking 8 besar sekolah secara parallel. Waktu itu Papa mengingikan saya bias melanjutkan di UNNES biar nantinya bias seperti karir Papa, tetapi Mama juga mengingikan yang lain yaitu seperti karir Mama, yaitu bidang Kesehatan.  Akhirnya saya mengikuti permintaan beliau semua. Saya memutuskan daftar keguruan di UNNES dan kesehatan di UNSOED. Nasib berbicara dan sudah memutuskan, akhirnya saya diterima di UNSOED dengan jurusan Kesehatan Masyarakat. Allhamdulillah Papa dan Mama merestui dan mendukung. Semoga menjadi awal karir dan kehidupan yang berkah ….AMIIIN.
Alasan saya memilih Kesmas karena saya tertarik bias seperti Mama. Yaitu berkarir di kesehatan dan bias mengetahui tentang kesehatan dan hidup bersih serta sehat dalam sehari hari. Adapun alasan memilih Perguruan tinggi di Unsoed karena perguruannya terjamin akreditasinya, bagus mutunya, megah gedungnya. Juga tidak kalah penting eyang dan saudara – saudara saya di Purwokerto banyak sekali, karena beliau semua tinggal di Sokaraja. Jangkauan perjalananan antara rumah saya di Slawi dengan kota Purwokerto dapat ditempuh dengan mudah karena ada kereta api, bus dll. Waktu tempuh antara Slawi Purwokerto kalau naik bus 2,5 jam sedangkan kalau memakai kereta cukup 1 jam perjalanan. Kota purwokerto adalah tempat kelahiranku, selain itu kotanya sangat bagus, bersih dan cepat maju perekonomiannya.
Kontribusi saya nanti di saat kuliah di Perguruan tinggi Jenderal Soedirman dengan jurusan Kesehatan masyarakat :
1.      Belajar dengan sungguh – sunguh supaya bias menjadi mahasiswa yang berprestasi dan bias membanggakan Perguruan tinggi Unsoed dengan jurusan Kesehatan Masyarakat
2.      Menaati aturan dan kebijakan dengan sesadar – sadarnya Perguruan tinggi Jenderal Soedirman dengan jurusan Kesehatan masyarakat dengan tujuan menciptakan perkuliahan yang hebat.
3.      Mengikuti kegiatan Perguruan tinggi Jenderal Soedirman dengan jurusan Kesmas yang bermanfaat bagi perkembangan pribadi saya dan dapat memajukan Unsoed.
4.      Menjaga nama baik Perguruan tinggi Jenderal Soedirman dengan mengikuti kegiatan perkuliahan dan kegiatan ekstra kurikuler lainya yang bias membawa harum nama baik Perguruan tinggi Jenderal Soedirman.
5.      Menulis artikel tentang Perguruan tinggi Unsoed dengan jurusan Kesmas supaya lebih ngetop dan terkenal di media masa.
Dalam kontribusi saya sangat mendalami keilmuan Kesehatan masyarakat, saya berkeinginan:
1.      Mengabdi pada Bangsa dan Negara tercinta sesuai dengan kompetensi / kemampuan saya sesuai keilmuan yang saya pelajari.
2.      Mengabdi pada masyarakat. Berbagi ilmu dan mengembangan keilmuan sesuai dengan kebutuhan yang relevan.
3.      Mengembangkan keilmuan yang saya dapat semaksimal mungkin, dengan maksud dan tujuan memperdalam dan mengembangkan keilmuan baik dengan  study lanjutan maupun dengan cara yang lain misalnya penulisan artikel maupun penelitian.
Belajar belajar dan belajar….. Generasi muda penerus generasi bangsa.
Hidup Unsoed……….., Maju Unsoed……… Jayalah Unsoed……….

Mengapa saya memilih Kesmas Unsoed dan kontribusinya

Posted by : Unknown
Rabu, 26 Agustus 2015
1 Comment

- Copyright © PRAKTIKUM KIE - Blogger Templates - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -